#JustARandomThought - No Title Is A Title
![]() |
| Photo Source |
2025 kemarin terlewati akhirnya dengan hanya membuat 1 postingan. Nggak apa-apa. meski sedikit mengecewakan tapi itu sebuah pencapaian yang harus tetap disyukuri bukan? Karena sebelumnya betul-betul nggak bisa menulis apa pun selama 3 tahun.
It's been 2026, the 4th month of the year. Udah banyak banget hal yang terjadi dalam 4 bulan terakhir. Banyak naik turun emosi yang sebelumnya nggak pernah terbayang dipikiranku bahwa akan bisa aku rasakan dalam waktu yang singkat. Aku juga akhirnya merasakan banyak experience baru, ada yang membuat aku takut di awal dan ada yang membuat aku merasa khawatir terus juga dalam beberapa waktu.
Ini mungkin akan jadi satu-satunya tulisan tentang perasaan paling jujur yang pernah kutulis di ruang publik. Aku lagi dekat sama seseorang, sedekat berkomunikasi setiap hari dan saling memberikan afeksi ke satu sama lain. Semua terasa seru di awal, penuh teka-teki, penuh drama, naik-turun adrenalinnya, dan bahkan aku sangat senang dengan perasaan yang ku dapat ketika aku merasa bahwa aku dipilih. Lalu, tiba lah masa di mana dia mulai menjauh. Aku nggak benar-benar tau dia menjauh karena memang dia punya avoidant attachment, atau emang lagi sibuk sama hidupnya yang ramai itu, atau sesimpel dia emang udah habis aja masa penasarannya ke aku karena udah terlalu banyak love bombing nya di awal.
Aku benar-benar nggak suka perasaan ini, perasaan dijauhi tanpa kejelasan, perasaan di mana aku nggak tau sebenernya masih connected apa nggak. Aku merasa sebelum ada siapa pun itu yang masuk ke dalam hidupku, aku bisa melakukan apa pun sendiri, aku mandiri dan selalu bisa mengandalkan diriku sendiri. Aku diberkati Tuhan dengan rezeki yang Alhamdulillah cukup, aku selalu bisa memenuhi kebutuhan bahkan keinginan aku. Aku bisa beli apa pun yang aku mau, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, aku bahkan bisa pergi ke mana pun aku mau. Aku berekspektasi kalau punya pasangan berarti semua yang biasa aku bisa lakukan sendiri itu nggak selalu akan aku lakukan sendirian, akan ada seseorang as my companionship yang akan selalu ada, seminimal banget sih saling kasih kabar untuk setidaknya hadir secara virtual jika raga sedang tidak bisa bersama. Kalau pada akhirnya aku harus dihadapi sama kondisi tarik ulur, aku melakukan semua sendirian, aku nggak merasa terkoneksi dengan pasanganku, aku nggak tahu posisiku apakah masih ada atau sudah tergantikan, lalu untuk apa aku punya pasangan? Untuk apa aku mempersilahkan seseorang masuk ke dalam kehidupanku jika seluruh rutinitas hidupku selalu bisa aku jalani dan lewati sendirian tanpa koneksi selain ke diriku sendiri dan Allah?
I mean... kalau semuanya serba nggak jelas, mending aku tetap dengan diri sendiri aja nggak sih? Karena toh ya hidup itu sendiri juga sudah penuh dengan misteri dan ketidakpastian, untuk apa aku dengan sengaja menambah ketidakpastian dalam hidupku secara sadar? Hehe
Di sisi lain, aku senang setiap dia kembali, aku merasa punya teman lagi yang mengerti sisi yang paling aku tutupi dari orang lain selama ini. But, yeah...... ternyata bukan cuma itu yang aku butuhkan dalam hidup dan dalam memilih pasangan. Aku tetap butuh kestabilan, stabil hadir, stabil emosi, stabil effort, stabil rasanya untuk tetap memilihku tanpa pernah ada keraguan untuk melirik atau bahkan memikirkan ada orang lain yang lebih baik untuk dijadikan opsi.
Aku nggak tau sih ini harusnya dibawa ke mana, aku masih belum terbiasa untuk pergi meninggalkan seseorang karena aku tahu betapa nggak enaknya perasaan ditinggalkan itu. Aku sama dia juga nggak benar-benar punya title yang jelas dan resmi, meski dia ya pernah bilang bahwa title pacar ya udah jelas aja since kami udah sering memberikan afeksi panggilan sayang ke satu sama lain. Namun, entah lah... rasanya saat ini malah aku yang berubah jadi "si bingung" itu.


Comments
Post a Comment